Jas Merah Berdirinya Hotel Sultan: Air Susu Dibalas Air Tuba

Jakarta Hilton International (sekarang bernama Hotel Sultan & Residence) didirikan oleh PT. Indobuildco pada tahun 1971. Ia dirikan di atas lahan Hak Guna Bangunan (HGB) seluas ± 13,7 hektar.

Lahan itu diperoleh secara sah dari Pemerintah tahun 1972 dengan membayar kompensasi sebesar USD 1,5 juta kepada Gubernur DKI DJakarta, ditambah USD 6 juta kepada Mensesneg R.I. melalui Yayasan Gelora Senayan atas perintah Presiden R.I. Pada saat itu, kurs USD 1 adalah sekitar Rp. 415.

Mari Bersama Menolak Perampasan Hotel Sultan dengan Mengisi Petisi

Sejarah pembangunan Hotel Jakarta Hilton International (Sekarang Hotel Sultan & Residence) bermula ketika PT Infobuldco melalui Letjend. TNI (Purn) Dr. H. Ibnu Sutowo, diminta oleh Gubernur DKI Jakarta untuk membantu pemerintah menyediakan infrastruktur berupa Hotel bertaraf International, Gedung Konferensi (JICC), Gedung Pameran Industri & Kerajinan Rakyat untuk event internasional Konferensi PATA (Pasifik ASEAN Travel Association) yang akan digelar di Jakarta pada tahun 1974 yang dihadiri tidak kurang dari 1.500 delegasi dari 39 negara.

Baca Juga:  Ramai! Publik Menolak Perampasan Hotel Sultan Dirampas, Kemensesneg Mengatasnamakan Negara?

PT Indobuildco rela berutang sebesar USD 7,5 juta demi kepentingan bangsa dan negara. Dana sebesar itu dapat membeli tanah ± 50 hektar di kawasan Brawijaya dan Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Padahal kawasan Hotel Sultan & Residence saat itu merupakan lahan tidur berupa semak belukar seluas ± 13,7 hektar, dikenal sebagai “Lembah Ciragil”, kemudian secara bertahap dibangun dan disulap oleh PT Indobuildco dengan menggunakan pinjaman dari Bank Asing dengan nilai investasi ratusan juta USD tanpa sepeser pun bantuan dari negara, sehingga menjelma menjadi kawasan Elit bernama hotel Jakarta Hilton International beserta seluruh fasilitas bintang lima lengkap dengan jejaring bisnisnya.

Membangun JCC

Pada tahun 1991, PT. Indobuildco kembali diminta oleh negara untuk membangun Gedung Pertemuan Conference Hall untuk KTT Gerakan Non Blok (GNB) ke 10 yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 1992. Saat itu, tidak ada satupun perusahaan yang sanggup membangun gedung pertemuan berskala internasional yang harus selesai dalam waktu sembilan bulan. PT Indobuildco dengan Presiden Direktur Pontjo Sutowo berhasil membangun gedung pertemuan megah dalam kurun waktu kurang dari 1 (satu) tahun yang dikenal dengan nama Balai Sidang Jakarta atau Jakarta Convention Centre (JCC). Atas dedikasinya tersebut Presiden Soeharto menganugerahkan Bintang Jasa Maha Putra kepada Pontjo Sutowo.

Baca Juga:  Negara atau Oknum Penguasa? Di Balik Kisruh Upaya Perampasan Hotel Sultan yang Mengusik Keadilan

Berdasarkan sejarah berdirinya Hotel Sultan & Residence, PT. Indobuildco adalah pemilik sah tanah dan Hotel Sultan & Residence yang tidak boleh diambilalih penguasa untuk kepentingan pihak lain.

Dibalas Air Tuba

Berbagai prestasi dan pengabdian PT Indobuildco yang dipimpin Pontjo Sutowo, seolah seperti kata pepatah “Air Susu Dibalas dengan Air Tuba“. Padahal PT Indobuildco dan Pontjo Sutowo sebagai pemilik Hotel Sultan & Residence merupakan satu-satunya pengusaha pribumi di kawasan Senayan Jakarta yang sejatinya harus diberi peluang untuk semakin berkembang dan maju.

Melukai Rasa Keadilan

Hotel Sultan & Residences sebagai satu-satunya perusahaan pribumi di kawasan Gelora Bung Karno yang dibangun di atas Hak Guna Bangunan (HGB).

Baca Juga:  PT. Indobuildco Pemilik Hotel Sultan: Besar Partisipasinya Bangun Bangsa dan Negara

Menurut hasil Kajian Akademik Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung dan Fakultas Hukum Universitas Trisakti bahwa Hak Pengelolaan (HPL) berdasarkan PP Nomor 18 Tahun 2021 Tentang Pengelolaan, Hak Atas Tanah yang dijadikan dasar Kemensetneg untuk ambi lalih secara paksa Tanah berikut Hotel Sultan & Residence, tidak serta membatalkan HGB PT Indobuildco.

Sekadar mengingatkan dan menginformasikan, PT. No. 18 Tahun 2021 tersebut dibuat di era Presiden Jokowi. Patut diduga untuk melayani kepentingan oligarki dengan menggusur perusahaan pribumi nasional. Padahal, di kawasan Gelora Bung Karno Senayan berdiri hotel Mulia, Hotel Fairmont, Senayan City, Plaza Senayan, FX Sudirman dan lain-lain yang diduga keras dimiliki pengusaha non pribumi dan asing.

Pertanyaannya, mengapa pengusaha pribumi mau dibunuh dan diambil usahanya?

‎Ikuti saluran Berita Fakta & Informasi Petisi Keadilan Hotel Sultan & Residen di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbCMoWxA89MlWeKdGM2h atau Klik DI SINI

108 tanggapan untuk “Jas Merah Berdirinya Hotel Sultan: Air Susu Dibalas Air Tuba”

  1. Mendukung dan menolak perampasan hotel Sultan

    Jangan karena punya kekuasaan jadi zolim semena mena..pikirkan nasib pekerja dan perjuangan dulu yang membangun hotel Sultan

  2. Mendukung PT Indobuildco dan menolak perampasan Hotel Sultan oleh Pemerintah yang semakin semena-mena.

  3. kepemilikan yang diperoleh secara sah, melalui proses legal yang benar, dan atas dasar kontribusi nyata bagi negara, wajib dilindungi. Pengambilalihan sepihak adalah langkah yang tidak adil dan mencederai semangat kepastian hukum. Tolak perampasan Hotel Sultan!​​​​​​​​​​​​​​​​

  4. Saya mendukung penuh petisi ini. Hak kepemilikan yang diperoleh secara sah, melalui proses legal yang benar, dan atas dasar kontribusi nyata bagi negara, wajib dilindungi. Pengambilalihan sepihak oleh Kemensesneg adalah langkah yang tidak adil dan mencederai semangat kepastian hukum. Tolak perampasan Hotel Sultan!​​​​​​​​​​​​​​​​

  5. Semoga pemerintah memperhatikan nasip pengusaha pribumi dan karyawan, PT. Indobuildco banyak jasa untuk negara.

  6. Demi mengenyangkan perut para pejabat, rela mengorbankan pengusaha pribumi..rakyat yg menanggung susah… Pemerintah gaka da otak

  7. Orang besar sekelas hotel sultan diperas dan diintimidasi oleh pemerintah apalagi rakyat kecil seperti kita2, dimana hati nuraninya ini

  8. Pemerintah seharusnya mengkaji ulang perampasan hak pengelolaan yang saat ini dikelola pengusaha pribumi yang sangat memperhatikan segala aspek dan mempunyai kontribusi di masa lalu buat negara ini.

  9. Pemerintah seharusnya berkontribusi dengan pengusaha pribumi, bukan sebaliknya dan seharusnya di kelola pemilik Sah Hotel Sultan saat ini.

  10. Pemerintah seharusnya berkontribusi dengan pengusaha pribumi, bukan sebaliknya dan seharusnya di kelola pemilik Sah Hotel Sultan saat ini dan seterusnya, untuk mengelola dan sukses bersama Hotel Sultan Jakarta

  11. Pemerintah memperlakukan pengusaha pribumi tanpa melihat jasa dan kontribusi yang di lakukan pengusaha pribumi untuk negara.Pemilik sah Hotel Sultan saat ini dan seterusnya untuk terus mengelola dan sukses bersama Hotel Sultan Jakarta

  12. Semoga ada jalan keluar terbaik yang mengedepankan keadilan serta mempertimbangkan kepentingan bersama yg akan membawa kebaikan bagi semua pihak

  13. Semoga ada jalan keluar terbaik yang mengedepankan keadilan serta mempertimbangkan kepentingan bersama yg akan membawa kebaikan bagi semua pihak..

  14. pemerintah harus adil dgn pengusaha pribumi,tdk boleh semena2.sementara pengusaha2 asing begitu santainya di Indonesia ini cari cuan.wahai pemerintah dmn rasa keadilanmu.saya turut menandatangani petisi ini sebagai bentuk dukungan.

  15. Menolak dan mengecam premanisme yang dilakukan oleh pemerintah atas Hotel Sultan. Perampasan Hotel Sultan harus segera dihentikan. Saya turut menandatangani petisi ini sebagai bentuk dukungan terhadap PT Indobuildco.

  16. Menolak dan mengecam perampasan Hotel Sultan. Turut menandatangani petisi ini sebagai bentuk dukungan untuk PT Indobuildco.

    • pemerintah seharusnya melindungi pengusaha pribumi. dari sekian banyak jasa” hotel ini terhadap negara dan sejarah panjang bagaimana hotel sultan di bangun, rasanya sangat tidak adil jika skrg hotel ini mau di ambil oleh negara tanpa kompensasi apapun. malah pihak hotel yg di suruh bayar kompensasi, bagaimana keadilan di negara ini?

    • pemerintah seharusnya melindungi pengusaha pribumi. dari sekian banyak jasa” hotel ini terhadap negara dan sejarah panjang bagaimana hotel sultan di bangun, rasanya sangat tidak adil jika skrg hotel ini mau di ambil oleh negara tanpa kompensasi apapun. malah pihak hotel yg di suruh bayar kompensasi, bagaimana keadilan di negara ini? negara mengabaikan semua hal” di atas dan terlalu serakah ingin merebut sultan

  17. Kalau Pemerintah merampasnya, maka Pemerintah sudah sangat zalim dan semena mena terhadap pengusaha pribumi… kenapa giliran pengusaha asing untuk mendapatkan izin perkanjangan usahanya sangat dipermudah bahkan dibantu, giliran untuk pengusaha Pribumi dipersulit bahkan mau dirampas secara semena-mena, Negara harus adil dan harus melindungi Pengusaha Pribumi, dan pemerintah harus mengusut tuntas Oknum yang seolah mewakili Negara untuk merampas aset satu-satunya aset milik Ptibumi di sepanjang Jalan Sudirman… Bravo Hotel Sultan, dan saya ikut menandatangani Petisi Keadilan bagi Hotel Sultan…

  18. Kalau Pemerintah merampasnya, maka Pemerintah sudah sangat zalim dan semena mena terhadap pengusaha pribumi… kenapa giliran pengusaha asing untuk mendapatkan izin perkanjangan usahanya sangat dipermudah bahkan dibantu, giliran untuk pengusaha Pribumi dipersulit bahkan mau dirampas secara semena-mena, Negara harus adil dan harus melindungi Pengusaha Pribumi, dan pemerintah harus mengusut Oknum yang seolah mewakili Negara untuk merampas aset satu-satunya aset milik Ptibumi di sepanjang Jalan Sudirman… Bravo Hoet Sultan, saya ikut menandatangani Petisi Keadilan bagi Hotel Sultan…

  19. Semiga ada jalan keluar terbaik yg mengedepankan keadilan, serta mempertimbangkan kepentingan bersama dengan penyelesaian yg bijak dan membawa kebaikan bagi semua pihak

  20. Semoga ada jalan keluar terbaik yang mengedepankan keadilan, kepastian hukum, serta mempertimbangkan kepentingan bersama. Penyelesaian yang bijak akan membawa kebaikan bagi semua pihak…

  21. Semoga ada jalan keluar terbaik yang mengedepankan keadilan, kepastian hukum, serta mempertimbangkan kepentingan bersama. Penyelesaian yang bijak akan membawa kebaikan bagi semua pihak

  22. Kalau Pemerintah merampasnya dengan semenan-mena berarti Pemerintah sudah sangat dzalim terhadap anak bangsa yang asli Pribumi, kenapa pengusaha asing dipermudah untuk mendapat izin perpanjangan usaha di tanah pribumi… sangat berbanding terbalik dengan pengusaha pribumi seperti tak di anggap bahkan di intimidasi… Negara sangat tidak pantas berbuat demikian, Negara harus menghargai para pejuang tanah air indonesia… bukan malah memanjakan pengusaha asing dan diperjuangkan pula… seolah anak bangsa kok seperti di jajah sama pemerintah di tanah airnya sendiri… Negara harus memberi Keadilan bahkan melindungi Hotel Sultan dari oknum yang ingin merampasnya mengatasnamakan Negara.

  23. Saya sangat mendukung petisi ini dan sangat menolak perampasan hotel sultan, pemerintah harus bisa bijak

  24. Sepakat, pemerintah sudah sangat zalim dan semena mena sama pengusaha pribumi…giliran pengusaha asing dapat izin kemudahan kepemilikan, Badan Usaha, atau lahan (PIK, Sawit, Bubur Kertas, Tambang dll)…jangan seperti itulah aneh bangat pemerintah kok seperti menjajah bangsanya sendiri…
    Pengalaman terbang di Timur Tengah (KSA), yang saya ketahui bagi setiap penduduk yang memiliki properti baik itu lahan, bangunan atau usaha, karena lahan tsb. lalu dibutuhkan oleh negara/kerajaan, seperti ditemukan adanya tambang, atau akan dibangun jalan raya dll….maka Negara/Kerajaan selalu memberikan GANTI UNTUNG dengan memberikan kompensasi minimum 3 kali lipat dari harga normal yang sedang berlaku. Atau lebih dari 3 – 5 kali lipat karena daerah yang istimewa/strategis.

  25. Keadilan harus ada, setuju sih negara harus ganti untung, tdak mengambil lahan tanpa memikirkan dampak ke karyawan dan nilai sejarah dari adanya hotel Sultan dan GBK bagi Indonesia

  26. Sangat miris bagaimana Pemerintah memperlakukan pengusaha pribumi tanpa melihat jasa dan kontribusi yang sudah dilakukan pengusaha pribumi untuk negara Indonesia tercinta. Para generasi muda harus mau membaca sejarah negara agar paham seperti apa Pemerintah yang memimpin negara ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *